Diskriminasi di rumah Sendiri

 

 

” Gue sebel banget… gue lagi  ada tugas kantor nih sama bos expat gue naik pesawat G*ruda ehhh si pramugarinya beda banget perlakukan ke gue sama bos gue!!! Bos gue ditawarin minumlah apalah bentar-bentar disamperin ditanyain mau apa, lahh gue? Dicuekin! Belum lagi.. pas sampe di Balikpapan kita ke Starb*ck eh si mbaknya sama!! Pengen gue kemplang deh!!, lagian apa hebatnya expat sih sampe dibedain gitu” Itu curhatan sahabat baik saya digrup Whatsapp kami.

Seorang teman lain curhat yang serupa, ketika berlibur di Bali perlakuan terhadap turis lokal ( teman saya ) beda banget ama perlakuan ke turis asing. ” Kita kayak di cuekin ci, males ah ke Bali lagi ” ucap teman saya. ” Masa kita ke beach club gitu ( cukup ternama ) eh norak banget deh meja sebelah bule si mbaknya ramah senyam senyum giliran meja kita lama dipanggil pura-pura bego ngga ngeliat gitu.. ogah deh kesana lagi.”

Saya sih belum pernah mengalami perlakuan menyebalkan begitu tapi melihat sendiri pernah. Ketika saya makan disalah satu restoran di Bali tahun lalu, pada saat yang bersamaan masuk pasangan Indonesia dan seorang Bule. Nah dari kedua meja ini terlihat jelas kalau meja si bule mendapatkan perhatian lebih, begitu diantar ke meja langsung di bawakan buku menu sedangkan meja sebelah yang pasangan Indo mesti nunggu lama dan panggil si mbak baru deh datang bawa buku menu. Serta tanpa dipanggil si mbak setiap 10 menit deh datang ke meja si bule untuk memastikan semua aman terkendali sedangkan meja si pasangan Indonesia tidak mendapatkan perhatian serupa.

Saya jadi berfikir ada apa ini, kenapa sih Orang Kita didiskriminasi di Rumah sendiri atau apa hebatnya si Expat/bule sehingga banyak orang kita manis banget kalau di depan mereka? Apa orang kita “malas” melayani orang lokal atau mungkin si turis bule ini lebih manusiawi memperlakukan orang kita ?

Dari perspektif saya yang membuat hal itu terjadi kemungkinan terbesar adalah terbentuknya Pola Pikir sebagian orang kita yang menganggap bule/expat/turis asing lebih WOW, lebih pintar dan lebih banyak uangnya jadi bila memberikan pelayanan yang bagus maka tipsnya pasti besar. Dan bila pelayanan bagus maka makin banyak wisatawan asing yang kembali lagi ke Indonesia (Bali).

Oh ya saya jadi inget pas di Bali tahun 2015, ketika di Tanah lot saya membeli Aqua besar harganya 7000 rupiah nah pas ada bule tuh samaan beli Aqus sama saya, dikasih harga 20,000 rupiah saya sih diem aja senyam senyum karena lihat perlakuan berbeda 🙂  dan Bli-nya bilang ke saya “Biarin aja bule uangnya lebih banyak”. 

Bila orang kita di diskriminasi perlakuan, seakan nggak dianggap oleh pelayan/pemberi jasa dibandingkan si bule/ expat/ turis asing, maka si bule/ expat / turis asing di diskriminasi harga. Contoh terdekat ketika saya dan si babang ke Jogya harga tiket Borobudur dan Prambanan hampir 10x lipat daripada turis lokal ( ini bikin si babang gondok banget 😜). Dari institusi resmi saja mendiskriminasi harga yang sangat kontras untuk turis asing sehingga wajar jika orang biasapun melakukan diskriminasi harga pada turis asing ( Hmm wajar apa nggak menurut teman-teman?? )

Padahal nggak semua bule loh lebih banyak duit, banyak turis Ausie yang gak banyak duit juga datang ke Bali, karena liburan di Bali lebih murah daripada di Negara mereka, nilai tukar rupiah yang rendah menyebabkan apa-apa terasa murah di Indo bagi turis serta mereka di perlakukan bak raja bila berlibur di Indo (Bali).

Dari realita “Bagusnya pelayanan terhadap bule/ expat / turis asing di Indonesia”, Saya ada bertanya ke beberapa teman dan si babang yang sudah beberapa kali ke Asia termasuk ke Indonesia, pertanyaan saya

” Negara Asia mana yang paling disukai dan paling ramah orangnya? “

saya padahal sudah PD banget pasti jawabannya Indonesia… eh ternyata lain loh jawaban mereka rata-rata Filipina, saya yang ngga terima jawaban ini nanya lagi “Kok Filipina, bukan Indonesia?”, mereka bilang “Indonesia sih enak juga ramah, tapi orang Filipina itu lebih tulus, di Indo saya merasa terlalu diperlakukan berlebihan dan kalau ke restoran dan kemana-mana mata orang melihat kesaya jadi malah nggak nyaman.”

Disisi lain memang banyak turis asing yang membuat pelayan kita lebih merasa ” dimanusiakan”, dibandingkan turis lokal memperlakukan pelayan. Turis asing banyak yang menjawab dengan ramah pertanyaan ” Hi how are you?” yang dilemparkan oleh pelayan dan menimpali kembali pertanyaan tersebut sehingga terjadilah percakapan , sedangkan orang kita kadang ditanya hal yang sama oleh pelayan hanya “Hmm, baik”.

Jadi kalau saya sih mau introspeksi diri aja, sudah dimulai dari diri sendiri belum untuk;

Bersikap baik kepada siapapun tanpa peduli dia itu ras apa, mau bule kek, indo kek, putih kek, gelap kek… jangan memperlakukan orang karena Ras-nya semua juga sama-sama manusia.

Bersikap sopan dengan orang dibawah kita seperti ke pelayan resto, tukang sampah, mbak kasir atau pembantu kita. Kalau bersikap baik terhadap orang yang levelnya diatas kita sudah biasa.

Ada masuknya bagaimana cara untuk STOP diskriminasi dirumah sendiri? Berbagi yuks 😉?

34 comments so far.

34 responses to “Diskriminasi di rumah Sendiri”

  1. Def leppard says:

    Warisan penjajahan VOC 350 thn tertanam di bali ya

  2. Mae says:

    Saya sering tinggal di Bali mba dan ini betul sekali. Sewaktu pindahan dulu dan saya mau ngontrak rumah, banyaaak sekali yang tidak mau ngontrakin rumahnya ke orang lokal (katanya takut tidak diurus, takut maling, dsb.) Mungkin salahku juga nyari rumah yang bisa dikatakan bagus banget dan lokasi di daerah lumayan hits.

    Dan engga lama ini saya ada reuni dengan teman-teman kantor lama (campuran bule-Indonesia). Kami menyewa villa yang ada kerja sama dengan penyewaan motor.
    Giliran kami mau nyewa motor, pihak villa tidak mengizinkan untuk orang lokal!! Takut dibawa lari mungkin? Ha ha

    Maaf jadi kepanjangan -_-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to Sari's Storyline

Enter your email address and receive notifications of new posts by email.


Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

Read previous post:
Aku Dilamar

  Saya pada dasarnya bukanlah tipe cewek yang romantis dan tidak juga berharap dilamar dengan cara yang romantis, tapi dalam...

Close