Kota Jakarta dan Desa Ethan

 

Sebagai wanita yang hidup di kota besar memutuskan pindah ke sebuah desa bukanlah keputusan yang mudah buat saya. Dari pemandangan sibuknya Ibukota dengan gedung bertingkat yang megah berganti menjadi alam terbuka pedesaan yang hening.

Hiruk pikuk Jakarta; bangun pagi terburu-buru kekantor/ meet client ditengah kemacetan membuat saya tidak menghargai indahnya pagi, boro-boro lihat matahari pagi liat macet saja sudah begah. Sekarang hidup di desa; bangun pagi melihat langit pink sunrise yang cantik dan nggak polusi, membuat saya lebih kalem no emosian dan banyak mengucap syukur atas indahnya karya Tuhan.

Baca Juga : Berkendara di Jakarta VS South Dakota 

Pemandangan pagi hari dari jendela rumah, aslinya lebih indah maklum pake Hp fotonya 😊

Tantangan

Tantangan ditempat baru.

Kalau kenal dekat dengan saya pasti tau betapa aktifnya saya, kaki gatel ngga betah dirumah dan selalu ke Mall baik untuk kerja ataupun hangout bareng teman, jadi pindah ke desa kecil yang nggak ada mall merupakan tantangan tersendiri bagi saya 😂 Yang terdekat sih groceries store dan Walmart ada tapi bukan mall serba lengkap seperti di Jakarta.

Tantangan berikutnya kangen keluarga dan kangen celoteh dengan teman dekat, tapi untungnya Text & Facetime sangat membantu memudahkan komunikasi.

Berkenalan dengan orang baru juga merupakan tantangan bagi saya, walaupun saya mantan agen asuransi ; agen asuransi kan terkenalnya pinter bergaul dan supel, tapi nggak begitu dengan saya karena saya aslinya type wallflower dan orang nggak kenal cenderung men-judge saya songgong, padahal nggak kok 😄. Mesti kenal lama baru deh saya bisa nyerocos ngga berhenti. Tapi untungnya orang sini pada ramah dan sincere, ya iyalah desa kalo nggak ramah bisa dimusuhin kali ya 😜

Bahasa pun menjadi tantangan buat saya, kalo ngobrol sama orang yang suaranya jelas dan enak didenger saya bisa mengikuti dengan cukup baik, tapi pas ketemu dengan suara bapak-bapak, berat dan kaya orang kumur-kumur mateng deh saya 😅, kluar : “Excuse me”, ” Pardon” dikiranya budek padahal ngga ngerti dia ngomong apa🙈

Tantangan berat lainnya saya kangen Bu Kris & sambelnya, kangen Nasi Padang, Mie Ayam, Siomay, Sate abang-abang, Empek-empek, Soto betawi, Sop Kaki Kambing dan Seafood Kalimati.

Suasana tinggal di desa.

Suasana disini enaknya masi bebas dari polusi, udara bersih dan asri. Bahkan saya pagi kadang bisa lihat rusa liar, turkey, pheasant dan tupai disekitar rumah.

Kami tinggalnya di farm jadi berjauhan ketetangga, yang dari rumah kami ke tetangga terdekat sekitar 2km jadi rempong kalo habis garam pas masak, minta tetangga jauh dan ngga ada gojek untuk minta tolong belanja ke supermarket 😜

Di desa ini populasi sapi 🐄🐮 lebih besar jumlahnya daripada populasi manusianya hihihi. Bisa tebak nggak berapa jumlah penduduknya kota Ethan? Kalo bener saya kasih hadiah #beneran loh ini 😎

Sapinya hitam manis 🐃

Tingkat keamanan.

Disini aman pake banget, rumah kami 24 jam nggak pernah dikunci dan mobil kuncinya di taruh di dalam mobil nggak ada yang ganggu gugat, bahkan ketika berlibur rumah tetap nggak dikunci. Pertama sih parno juga, si suami selalu bilang “Nggak usah dikunci pintu kalau malam” Secara saya orang Jakarta merasa nggak aman kalau nggak kunci pintu jadi pasti saya kunci. Dan pada suatu kesempatan saya berdiskusi dengan mertua eh sama dia juga nggak pernah kunci pintu 24 jam 😄😁.

Begitu pula ketika pergi ke shop/ restoran terdekat, handphone atau dompet ditaruh di dashboard mobil dan pintu mobil nggak dikunci tetap AMAN, kalau di Jakarta mobil yang sudah dikunci aja bisa dibobol maling. Tapi ya begitulah tinggal di desa Ethan aman terkendali.

Istimewanya tinggal didesa.

🎁 Tinggal didesa bukan berarti tertinggal

  •  Koneksi wifi nya lebih berkali lipat kenceng daripada wifi di Jakarta  😜 hi hi hi padahal didesa ya..
  • Teknologi pertanian disini keren 👍 banget.

🎁 Uniknya di sini kalau mau kirim surat nggak perlu ke kantor pos, cukup masukin ke kotak pos kita, sekitar jam 11 ada mail lady yang ambil setiap Senin – Sabtu, si mail lady sekalian nganter surat buat kita.

Ini kotak suratnya, kalo kita mau kirim surat naikin deh stick merahnya, pas mail lady datang diambil suratnya buat dikirim

Kalau mau beli perangko bisa online atau taruh aja uang dan note dikotak surat, maka besoknya perangkonya muncul beserta kembalian dan receiptnya. Bila nggak yakin berapa biaya suratnya taruh aja surat beserta extra uang/perangko diklip amplopnya, besok dateng deh kembalian uang/perangkonya. 😊

Bila ternyata bukan surat melainkan paket yang datang dan besarnya melebihi kotak pos maka si mail lady akan menaruh paketnya di dalam rumah kita, masuk aja gitu kalau nggak ada orang kan pintunya nggak pernah dikunci 🤗

🎁 Saya bisa berkebun, salah satu yang bikin saya happy dan nggak homesick adalah berkebun. Isi kebun kecil kami : Jagung, aneka tomat, buncis, squash, pokcay, lettuce, paprika, timun , daun bawang dan aneka cabe. Nah pas musim panen dan berbuah hasilnya buat konsumsi sendiri dan berbagi ke keluarga dan tetangga.

Suka banget berkebun tapi sedihnya pas masuk ke winter dan salju dateng banyak banget tomat masi hijau ngga sempet terselamatkan.

Tomat Ceri dari kebun sendiri rasanya lebih manis 😊

Pengalaman pertama si ayah memetik jagung untuk dimakan sendiri, Summer 2016

Sederhananya orang desa.

Saya bersyukur bisa berkesempatan hidup di desa dan mendapatkan cara pandang yang berbeda memaknai hidup.

Penampilan

Ketika saya di Jakarta sering kali melihat orang yang memandang orang berdasarkan penampilan; apa yang dimiliki atau apa yang dipakai. Tapi didesa NGGAK sama sekali, mau kamu pake baju bagus atau kumel dekil perlakuannya SAMA perlakuan NORMAL.

Saya teringat sharing dari kerabat yang tinggal disalah satu kota di Indonesia, bukan di Jakarta ya, ketika mau beli mobil datang ke showroom dengan penampilannya yang sederhana naik motor tua, ehh dicuekin loh! Padahal kerabat saya ini beneran niat membeli mobil dengan CASH nggak nyicil. Itulah budaya orang kota memandang orang dari penampilan.

Hidup hedon dan kehidupan sederhana

Banyak orang kota besar yang hidupnya hedon contohnya saya deh. Walaupun dulu untuk urusan kerja saya rutinitasnya lunch di mall, ngopi/ngeteh di coffee shop, makan malam ketemu teman direstoran.. tuntutan pekerjaan yang menjadi gaya hidup. Banyak juga yang hedon karena tuntutan pergaulan mulai dari makan mesti di resto mevvah, pakaian yang branded dan semua harus branded kalu nggak branded di tertawakan atau dikucilkan dari pergaulannya, ya nggak masalah sih mewah dan branded selama doku nya tebel yang jadi masalah kalo uda hedon hidupnya tapi gali lobang tutup lobang OH NO seyemm.

Pindah ke desa membuat saya memaknai hidup lebih, hidup bahagia ngga perlu hedon cukup dengan hidup sederhana bisa bahagia kok. Malah bahagianya bermakna.

 

Salam hangat dari desa Ethan yang sedang dingin -5 °C 💛

Sari

28 comments so far.

28 responses to “Kota Jakarta dan Desa Ethan”

  1. Hai Sari, saya juga lebih suka tinggal di desa, klo di kota kemana-mana macet 😀 .
    Tomat2 yg hijau saya panen juga enak ko dibikin sambel hijau, klo yg maish keras sekali jadi mainan anakku haha.

  2. arman says:

    jadi lebih relax ya kalo gak tinggal di kota besar…
    wah iya pasti parno ya kalo rumah gak dikunci.. hahaha.

  3. Christa says:

    Langitnya cantik banget Sariii… aku jadi inget dulu aku pindah dari Jakarta pas sekolah ke kota kecil di Inggris, diatas jam 8 malem udah sepi mobil.. haha kalau di Jakarta jam segitu masih macet2nya pulang kantor yah :))))

    Nah, untungnya tunanganku tinggalnya di kota lumayan besar di California jadi mungkin gak terlalu kaget nanti.. yah walaupun kita sempet ngomongin mau pindah ke kota kecil juga sih nanti kalau biaya hidup gak ketulungan hehehehe

  4. kalo boleh milih aku jg pgn mbak tinggal di desa gitu.. tapiii desanya di luar negri yak ;p.. kalo desa di indonesia aku masih ogah, krn PLN nya byar pet mulu, trs g bisa shopping2 ntr ;p..

    salut ih orang2 di sana kejujurannya bnr2 yaa… acung jempollah… coba kalo di jakarta bisa begitu -_-

  5. adhyasahib says:

    Ada plus minusnya masing2 ya, tergantung pribadi masing2 sukanya yg mana,hehe
    Wow luar biasa itu desa aman banget mbak, bisa jdi penjara disana kosong 😀

    • Iya Adhya ada sisi kota yang saya suka ada sisi desa yang saya suka, kalau di desa ini sih ngga ada penjara sepertinya ( apa saya yang belum tau ya) tapi kalo dikota terdekat sih ada

  6. Nelly says:

    Senang juga baca tulisan2 Sari.
    Kalau ke Jakarta kabar2i ya..
    Kangen juga

  7. Charless says:

    Populasi sejumlah 333

  8. Dewi Nielsen says:

    Samalah kita Sar..hidup di kampung 😀 Duluuu banget sebelum Denmark kebanjiran pengungsi, amannya seperti ditempat Ethan Sar…tapi sekarang sudah ada pencurian di toko-toko. Jadi ya kita semua waspada saja. Rumah di kunci.

  9. inly says:

    Wahhhh setuju banget si Sunrisenya pasti lebih keren aslinya, Aku juga gitu, kalau foto kadang suka sebel, pdhl aslinya tsakep banget. Kebetulan pasangan aku juga tinggalnya di kota kecil di New Zealand, emang berasa banget sepinya, kalau lagi summer, krn terangnya sampe jam 8.30pm, masih ga terasa sepi, lah kalau winter, jam 5 aja dah kayak kota mati banget, dan jam 9 dah pada molor, tapi memang plus minus banget sih tinggal di kota kecil dan dikota besar.

  10. Renny Magdalena says:

    Wah asyik tinggal di desa mba…

  11. nitalanaf says:

    Wow aman banget ya, rumah dan mobil nggak perlu dikunci. Bahkan lady mail pun bisa keluar masuk rumah antar paket. Surat-menyurat masih lancar juga ya di sana.

    • Iya Nit, merasa beda banget dengan keamanan di Jakarta, tukang ledeng benerin ledeng datang aja pas kita nggak dirumah trus pembayaran jasanya kita kirim by mail ke dia, desa banget yA caranya.

  12. Mbak, sama persis nih, aku mau pindah ke Kalimantan ikut suami. udah terbiasa di Jakarta yang hidup penuh dengan hingar bingar nyari apa2 gampang.. hahha.. jadi sedikit banyak situasinya mirip sama kamu mbak.
    Masalah aman emang kalau di desa lebih terjamin yaa, dirumah mertua mobil motor dluar tanpa ngunci pagar ditinggal selama sebulan gak kenapa-kenapa, akunya yg parno dan panik takut kalau ada yang mencuri *secara di jakarta baju dijemur diluar aja bisa diambil.. :DD

  13. Desanya nyaman bangett.. Jelas bikin betah. 🙂
    Jumlah penduduk Ethan… uhmm.. 500.
    Hehehe

  14. rahmah says:

    hihii…populasi sapi lebih besar dari populasi manusia, luce juga 🙂 tapi tinggal di pedesaan negara maju ini enak yah.ga kayak tinggal di desa di indonesia 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to Sari's Storyline

Enter your email address and receive notifications of new posts by email.

Recent Posts


Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

Read previous post:
Disney Romantic Vacation : Magic Kingdom

You know your hubby love you when one of your Christmas present is ticket to the Magic Kingdom. Thank you...

Close