Petani Indonesia itu Miskin

Sumber : Google

Seorang pembaca blog Saya dari Indonesia email Saya intinya ; “ Kak, Gimana caranya bisa bangga menjadi istri seorang Petani? Sedangkan dia memiliki kekasih petani tapi keluarga dan teman terdekat menyarankan untuk mengakhiri hubungan karena menurut mereka profesi petani tidak menjamin.”

Beberapa teman Saya menanyakan. “ Sar, suami lu kerja/ usaha apa? “

Saya jawab : “ Petani “

Rata-rata teman Saya berkomentar : “ Kalau Petani di sana sih enak hidupnya, coba Kalau petani kita…”

Loh, ada apa sih dengan Petani di Indonesia??

Saya mulai dari arti petani sendiri ya, Saya kutip dari Wikipedia;

Petani adalah seseorang yang bergerak di bidang pertanian, utamanya dengan cara melakukan pengelolaan tanah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanaman (seperti padi, bunga, buah dan lain lain), dengan harapan untuk memperoleh hasil dari tanaman tersebut untuk digunakan sendiri ataupun menjualnya kepada orang lain.

Kalau Saya pribadi ketika mendengar kata Petani Saya langsung teringat pelajaran SD;

” Petani bekerja di sawah, menanam padi, membajak sawah dengan menggunakan kerbau, kerjanya susah, kotor, panas dan hasilnya kadang bisa nggak sebanding apa lagi pada saat kemarau panjang.”

Sumber : Google

Seorang teman mengutarakan pendapat pada mini survey Saya :

Petani adalah The most underrated job! Padahal ga ada mereka ga ada tuh orang jualan di pasar, dan ga ada makanan buat kita smua.

Dan dalam pembahasan Saya kali ini pernyataan itu tepat banget! Banyak pendapat umum menyatakan :

1. Petani Indonesia miskin!

Saya kaget banget ketika mau menuliskan “Petani Indonesia” , eh baru diketik Petani Indo ehh langsung google muncul, “ Petani Indonesia miskin “ Ironi banget, Negara kita yang dikenal dengan Negara agraris dan tanahnya subur tapi kenapa Petani Indonesia miskin??

Untuk menulis blog ini Saya google-ing dan menemukan satu tulisan yang cukup unik diantara puluhan artikel pesimis mengenai pertanian Indonesia. Menteri Amran : Mau kaya jadilah Petani 

Dikutip Menteri Pertanian Arman ;

“Mahasiswa kami libatkan hingga tujuh ribuan. Kami ikutkan supaya tahu soal pertanian. Jadi kalau mau jadi konglomerat, jadilah petani,”

Pak Menteri, nggak perlu jadi konglomerat.. mikir makan aja susah… istilahnya… Tidak perlu di ngajakin mimpi terlalu tinggi jadi konglemerat pemerintah harus nya merubah masyarakat/Petani dari Hal yang dasar yaitu pola pikir dan mentalitas.. mungkin pemerintah bisa membantu dari Hal sederhana seperti training dasar untuk Petani, perbaikan infrastruktur di daerah pertanian, mungkin juga program cicilan dan berbunga rendah untuk membeli lahan buat bertani.

Kalau di artikel itu disebutkan “ Dulu gengsi malu bertani karena tradisional “ Really Pak Menteri??

Saya pikir bukan disitu permasalahnya permasalahannya mereka melihat bukti nyata hasil yang diperoleh dari bertani mungkin itu kerabat terdekat yang sudah bekerja banting tulang menjadi Petani tapi hasilnya tidak sebanding.

 

2. Petani profesi tidak menjanjikan, kelas rendah.

Nah seperti kasus si adik yang email Saya ini, memiliki kekasih Petani malah di ojog-ojog keluarga untuk mengakhiri hubungan, karena ya itu menjadi Petani dinilai tidak bisa memberikan penghidupan yang baik.

Bahkan Saya pernah membaca ada Petani di Indonesia yang bisa menyekolahkan anaknya sampai tamat kuliah tapi si bapak Tani ini meminta anaknya untuk cari kerjaan di Kota di Bank karena kerja di Bank lebih bergengsi!  Kalau si Petani nya saja tidak memiliki kebanggaan menjadi petani, berarti memang ada yang salah dengan konsep pertanian di Indonesia.

 

3. Petani di Indonesia berpendidikan rendah.

Rata-rata petani di Indonesia berpendidikan SD sebesar 72,6% ( Sumber : Detik.com klik disini untuk linknya )  nah itu yang lulusan IPB pada jadi apa?

Bagaimana mau menggunakan alat pertanian modern bila sumber daya manusia nya tidak memiliki pendidikan yang memadai?

 

4. Tidak adanya regenerasi Petani di Indonesia.

Bila profesi Petani sudah di underestimate dan menjadi opini publik bahwa profesi ini tidak menjanjikan menurut Saya bukan salah generasi muda Indonesia tidak memiliki cita-cita jadi petani.

 

Dari pandangan Saya sebagai orang biasa mungkin untuk memacu minat generasi muda bertani pemerintah bisa :

  • Menyediakan buku pertanian berkualitas dan mengajak Petani/ Generasi muda membaca.
  • Memberikan beasiswa kepada anak bangsa yang memiliki minat dalam pertanian,
  • Bekerja sama dengan Pengajar dan Petani yang berkualitas baik untuk memberikan pelatihan dasar, lanjutan untuk pertanian yang lebih baik, seperti : keahlian dasar yang harus dimiliki Petani, pentingnya pertanian modern, pertanian yang berkesinambungan, etc.
  • Fasilitasi Bank yang bisa memberikan pinjaman berbunga rendah agar petani bisa memiliki lahan sendiri, memiliki traktor sendiri dan tidak lagi bergantung pada tengkulak yang bunganya membumbung tinggi.
  • Pemerintah juga bisa mengadakan program permodalan bagi usaha tani pemula, ini salah  satu hal yang dilakukan oleh beberapa State di Amerika untuk mendorong pertanian di Amerika.

 

Ps. Saya bukanlah ahli pertanian, Saya cuma orang Indonesia yang kepingin lihat Petani di Indonesia hidup sejahtera seperti Petani di Negara maju.

8 comments so far.

8 responses to “Petani Indonesia itu Miskin”

  1. Efi says:

    Sampai sekarang, saya sudah bertani di empat negara, kerja bareng sama milik kebun baik skala besar maupun skala kecil. Ternyata setelah tak amati, petani (terutama modal kecil) dimanapun negaranya nasibnya sama aja, dipandang sebelah mata.

    Kalau punya modal besar dengan segala pendukung pertanian tentunya cerita lain. Salah satu kebun yang pernah jadi tempat kerja saya, punya modal yang cukup. Ladang yang luas (baik milik sendiri maupun luas) dengan manajemen baik. Ya kelihatan memang hasilnya, kalau dari kacamata saya mereka hidup berkecukupan. Usaha mereka ini pun sudah beberapa generasi, dan generasi penerusnya yang usia 20-an pun sudah ikut andil.

    Btw, soal Pak Tani yang tidak rela anaknya jadi petani patut dimaklumi, apalagi kalau Si Bapak kerjanya manual tanpa bantuan mesin pasti capek banget. Orang tua mana sih yang mau lihat anaknya susah, ya tak?

    • Bener banget, kita nya udah susah masa mau lihat anak susah.. ya nggak donk 😉

      Mau dunk baca tulisan ttg pertanian dan perkebunan di 4 Negara nya, tertarik banget pengen tau 😁

  2. bener banget mbak, mentalnya yang harus dibangun lagi. saya bangga kok kakek saya petani ulung yang bisa menghasilkan anak2nya yang luar biasa. dua sadara ayah saya meneruskan menjadi petani yang sampai sekarang masih menghasilkan sawahnya. semoga makin maju dan ubah mindsetnya

  3. Iya mba, Nenek Kakek saya Petani, rumahnya besar, halaman luas tapi tak ada satupun anaknya yang mau jadi Petani padahal Indonesia negara agraris dan maritim tapi sekarang beras saja mahal dan masih banyak Petani yang terlibat hutang dengan para Tengkulak huhu semoga Petani Indonesia segera maju yaa

  4. Ria says:

    sepertinya memang dikondisikan agar petani terus2an miskin… Tapi saya yakin tidak semua petani dan nelayan itu terpuruk nasibnya. Hanya memang kesejahteraan mereka belum merata dan itu sedihnya…

  5. Semoga petani di Indonesia ke depan nanti bisa semakmur petani di negara maju ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to Sari's Storyline

Enter your email address and receive notifications of new posts by email.


Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

Read previous post:
Musim Dingin ( Winter ) di Amerika

  Ini adalah winter kedua saya di Amerika tepatnya di South Dakota, setelah survive melewati winter 2016 yang menurut si...

Close